Senin, 16 Mei 2011

( Harpitnas = Cuti Bersama + Dadakan ), mending lihat solusi problem SWIFT...

Semmangat Pagi CommUNIXy,

Pagi ini suasana Jakarta agak lengang mengingat sejumlah kantor-kantor plat merah memilih libur. Terlepas dari setuju atau tidaknya NgoprekUNIX dengan ketidakbijaksanaan pemerintah ini, keputusan yang mendadak ini jelas menjadi sinyal lemahnya koordinasi lintas sektoral pemerintah. Huh... mendingan buat skeduler ajah tuh untuk mutusin perlu tidaknya cuti bersama... Apa sih susahnya buat skeduler atau cron job ketimbang bayar menteri atawa anggota DPR@yahoo.com yang katro-katro itu ? Eits, koq jadi rada-rada politis nih... Sebenernya, NgoprekUNIX lagi bete abis. Soalnya NgoprekUNIX tetap musti jaga gawang, udah keduluan rekan-rekan yang ambil tiket libur terusan hehehe....

Anyway busway juga ngadat tuh... Orang-orang pada sewotkarena busnya jarang banget. Emang moda transportasi ini beda tipis sama KRL... Sama-sama sumpek dan gak terawat... Plus biangnya telat alias molor dari jadwal (kalau masih ada ye)...

Oh ya, akhir minggu ini NgoprekUNIX kebagian ronda. Apesnya, ada aplikasi tulalit yang biasanya sih cerdas lagi problem. Namanya SWIFT, bukan sedan keluaran suzuki lho... Ini aplikasi buat remittance atau kirim-kirim uang dari dan ke luar negeri. Fungsinya serupa tapi tak sama dengan Western Union. Apa sih problemnya ? Nah, itu dia mistisnya problemnya gak jelas sehingga solusinya juga gaib. NgoprekUNIX, jadilah DokTor (mondok di kantor) malam minggu. Asem banget ye hehehe... Intinya aplikasi sering jatuh bangun, kalau user mo login susah banget. Pas udah login, gak ada angin atau hujan eh putus tuh aplikasi. Sebernya goprekUNIX melihat ini sebagai symptom bukan problem inti. Setuju gak ? Coba deh pantengin terus kalau gak percaya.

Sejatinya, problem ini dipicu oleh perubahan koneksi yang digunakan SWIFT dari dial up menjadi leased line atau VPN. Sebelum implementasi tersebut, situasi dan kondisi aman terkendali. Nah, inilah yang menurut NgoprekUNIX harusnya menjadi pusat atau titik awal analisis problem. Sayangnya, kebiasaan orang-orang senangnya mencari kambing hitam. Kasihan tuh kambing selalu menjadi sorotan negatif. Dzolim kali ye hihihi...
NgoprekUNIX sebagai penjaga gawang di server, diminta jungkir balik buat analisis dari sisi OS. Nah lho, mereka yang buat perubahan koq NgoprekUNIX yang jadi obyek penderita. Nasib...nasib... yang warah ngalah deh... Yang ajaib lagi Project Manager implementasi ini minta dikasih event viewer ala windows dari sisi AIX... Yah terpaksa ngurut dada deh, kasihan mereka belum tahu makhluk AIX hihihi...


Singkat cerita, meraka minta dilakukan tuning performance atau spesifiknya untuk network parameter. Setelah diskusi, Tim AppSup kasih NgoprekUNIX release note dari SWIFT untuk ubah parameter berikut :

  • rto_length=12
  • rto_low=1
  • rto_high=10
  • rto_limit=7
  • tcp_keepidle=60
  • tcp_keepcnt=8
  • tcp_keepinit=22
  • tcp_keepintvl=22
Tapi arahannya minta diset melalui konfigurasi di file /etc/rc.net. Terus terang, NgoprekUNIX belum pernah ngoprek di file tersebut. Proses tuning performance baik itu memory, I/O maupun network biasanya dilakukan dengan modifikasi via koman vmo, ioo, atau no. Nah, semua perubahan yang dilakukan, akan berimbas pada file-file di dalam /etc/tunables. Kalau modifikasi yang diinginkan bersifat permanen, maka file /etc/tunables/nextboot akan memiliki entri baru sehingga setting tersebut tetap berlaku setelah restart.

Ada tiga mode perubahan pada tuning performance, yakni hanya berlaku saat ini, hanya berlaku setelah reboot server, dan berlaku untuk keduanya. Supaya jelas, CommUNIXy silakan buka manual untuk koman vmo, ioo, atau no. Trus, apa yang istimewa dari tulisan ini ? Ujung-ujungnya cuma kasih saran untuk baca manual manual dari koman. Sabar dong, kalau marah-marah cepet tua loh...

Kalau Anda pernah melakukan tuning performance, maka boleh jadi Anda akan mengalami masalah ini. Koman sudah dilakukan dengan benar, tetapi efek tidak didapat setelah server di reboot. Gejala umumnya adalah file /etc/tunables/nextboot tidak mengalami perubahan atau penambahan entri baru. Bahkan, hal yang juga terjadi ketika Anda mengubahnya dengan koman /usr/sbin/tunsave dan edit langsung file /etc/tunables/nextboot. Nah, ini sempet buat NgoprekUNIX puyeng tujuh keliling.

Karena NgoprekUNIX baik hati, tidak sombong serta suka menabung, berikut adalah panduan untuk melakukan tuning performance :

Cek current parameter sebelum dilakukan tuning
 

Cek parameter pre520tune pada konfigurasi sys0
Untuk langkah ini, Anda harus memastikan bahwa atribut pre520tune statusnya DISABLE. Jika statusnya enable, maka entri pada file /etc/tunables/nextboot akan diabaikan saat reboot server.


Lakukan perubahan yang diinginkan dan reboot server


Cek entri file /etc/tunables/nextboot 


 Cek parameter setelah reboot server


Demikianlah ulasan terkait problematika saat tuning performance khususnya pada kasus aplikasi SWIFT. Semoga bermanfaat.

Salam NgoporekUNIX,

0 komentar:

Posting Komentar